Si Emas Hitam

Sumber tertulis tertua tentang Tanjung Enim berasal dari zaman Kerajaan Sriwijaya. Nama Tanjung Enim tersurat jelas dalam sebuah manuskrip berbahasa Sansekerta dalam huruf Palawa. Manuskrip ini mengisahkan tentang keindahan Sungai Musi yang membelah Kota Palembang dengan sembilan anak sungainya. Salah satu di antaranya adalah Sungai Enim. Manuskrip ini ditulis oleh salah seorang mahasiswa asal China yang sedang memperdalam ilmu filsafat bodhi (Buddha) di Universitas Sakyakirti di Kerajaan Sriwijaya. Dikisahkan bahwa kesembilan anak sungai Sungai Musi tersebut merupakan sarana transportasi utama sekaligus komunikasi yang menghubungkan daerah-daerah pedalaman dengan pusat kerajaan. Atas titah Dapunta Hyang Sri Jayanasa, di hulu-hulu sungai, dibangun tempat-tempat peribadatan. Pada sekitar abad ke-683, di sekitar pertemuan dua buah sungai besar Lematang dan Enim juga dibangun sebuah candi berukuran sedang.

Di masa keemasan Kesultanan Banten 1524/1525, sepasukan prajurit Banten entah dalam misi apa menempuh lebatnya rimba Bukit Barisan. Mereka memulai perjalanan penuh resiko itu dari Kerajaan Tulang Bawang di Sang Bumi Ruwah Jurai (Lampung). Sebagian besar prajurit gugur akibat keganasan alam perawan Sumatera. Beberapa di antaranya dimakamkan di tepi Sungai Enim. Beberapa yang selamat berhasil kembali ke Tanah Banten dan mengisahkan perjalanan itu. Kisah itu kelak selalu dijadikan suri tauladan bagi para prajurit sebelum berangkat ke medan laga.

Sumber tertulis lainnya tentang Tanjung Enim baru muncul kembali di periode sejarah kolonial. Dalam sebuah dokumen VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) yang menguasai pengelolaan sumber daya alam Nusantara, dilaporkan bahwa di sebuah daerah Karesidenan Basemah (Pagaralam) dijumpai masyarakat yang menggunakan bebatuan hitam sebagai perlengkapan domestik sehari-hari. Bebatuan ini gampang dijumpai di singkapan tanah dan batu di tepi-tepi sungai Enim. Dokumen bertahun 1859 ini memperkuat dugaan De Groet yang sebelumnya telah menemukan bebatuan hitam di sekitar sungai Ombilin pada tahun 1858. Baru tujuh tahun kemudian, Ir. Willem Hendrik De Greve melakukan penelitian mendalam dan menemukan kandungan batu bara yang mencapai puluhan juta. Jika eksplorasi Si Emas Hitam ini telah dimulai di Ombilin pada tahun 1892, Tanjung Enim mulai hingar bingar dengan kegiatan ekplorasi pada tahun 1895. Saat itu sebuah kongsi dagang lokal bernama Lematang Maatschappij mulai beroperasi di kawasan tambang batubara.

Tahun 1919 kegiatan penambangan Lematang Maatschappij diambil oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang menandai era perkembangan baru Tanjung Enim. Dalam tahun-tahun berikutnya, berduyun-duyun masyarakat Eropa bermigrasi ke tanah harapan baru, Tanjung Enim. Tercatat 350 warga Belanda menetap di Tanjung Enim. Sebagian besar berprofesi sebagai teknisi. Diantara teknokrat Belanda tersebut terdapat seorang Vulker, sang perancang Kantor Pengelola Tambang Hindia Belanda. Ia bukanlah satu-satunya arsitek Belanda yang menginjakkan kaki di Nusantara. Bersama 80 arsitek DELFT lainnya, ia dengan menumpang sebuah kapal laut selama hampir dua bulan, mengemban tugas untuk membangun sarana dan prasarana di Hindia Belanda. Kantor Jawatan Sipil Belanda di Batavia menugaskan Vulker untuk mempersiapkan sarana fisik penunjang kegiatan masyarakat Belanda di Tanjung Enim.

Tahun 1920, sebagai dampak dari pelaksanaan Politik Etis, Pemerintah Kolonial Belanda memanfaatkannya dengan mengeksploitasi ribuan tenaga kerja baru dari Pulau Jawa untuk ditempatkan sebagai buruh – buruh baru di kantong – kantong sumber daya alam, termasuk Tanjung Enim. Stasiun Tanjung Enim di tepi sungai Enim menjadi saksi kedatangan gelombang buruh pertama. Mereka diasramakan di semacam barak yang disebut “Karantine” (Kampung Karang Tinah). Generasi kedua dari gelombang pertama buruh asal Jawa ini kemudian mendiami daerah di sekitar kompleks elit kulit putih nan teduh. Kompleks ini berada di sekitar Jalan Jurang. Selanjutnya perkampungan buruh itu dikenal dengan Talang Jawa.

Menjelang siang hari, para buruh tambang berjalan tertib menyusuri jalan setapak di mulut tambang untuk mendapatkan jatah makan siang yang dikirim dari “Dapur Umum” di seberang Pos Polisi Belanda (Pos 61). Lokasi “outside catering” Belanda ini kelak terkenal sebagai “Atas Dapur”.

Sekitar tahun 1925, sebuah kecelakaan maut terjadi di sektor penggalian B. Terowongan penggalian batu bara runtuh dan menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Sebagian besar berasal dari gelombang buruh kedua tahun 1922. Pintu masuk ini kemudian ditutup dan tidak pernah dibuka lagi. Selanjutnya, di sekitar pintu maut itu didirikan sebuah pabrik keramik pada tahun 1926. Pada peristiwa G 30 S / PKI 1965, pabrik tersebut dimanfaatkan sebagai penjara tahanan politik.

Antara tahun 1925 dan 1940, terjadi migrasi buruh besar-besaran di Tanjung Enim. Mereka rata-rata merupakan swa migrasi dan tidak diorganisir oleh Administratur Kolonial Tanjung Enim. Dalam waktu singkat, gelombang ini menempati wilayah barat tambang (Karang Rejo) dan sisi timur lokasi “loading” batu bara (Tegal Rejo). Penggunaan nama “Rejo” merujuk pada kebiasaan penamaan pemukiman di daerah asal, yaitu sekitar Jawa Tengah. Sedangkan, “Karang” mengacu pada kawasan kaki bukit, dan “Tegal” mengacu pada genangan air dalam ukuran besar. Kolam besar di sekitar RT 8 Desa Tegal Rejo merupakan sisa genangan besar tersebut. Kaki bukit di Karang Rejo kini telah berubah menjadi danau “swamp” besar. Tegalan besar ini dulu terkenal angker. Tahun 1940, seorang kyai kemudian mendirikan sebuah surau di tengah tegalan itu. Barulah setelah itu, orang mulai berani mendiaminya. Bangunan surau itu kini masih berdiri kokoh di lokasi Madrasah Tsanawiyah Tanjung Enim.

Ketika terjadi huru-hara besar di kalangan buruh tahun 1930, Kepala Administrasi Kolonial Tanjung Enim mengambil tindakan tegas dengan memenjarakan mereka di utara barak Karantine (Kampung Karang Tinah). Bangunan ini kelak sampai zaman republik masih sempat berfungsi sebagai penjara. “Obach” yang merupakan Bahasa Belanda berarti lembaga pemasyarakatan dalam Bahasa Indonesia. Bentuknya yang menyerupai kamar-kamar sel kelak terkenal dengan “Bedeng Obak”. Saking angkernya tempat ini, salah satu “urban legend” Tanjung Enim lahir dari sana, yaitu Legenda “Ndas Gelundung” di pertigaan Jalan Obach dan Jalan Eproweg.

Tanjung Enim Heritages
by Enim Yorkers

About these ads

One Response to “Si Emas Hitam”

  1. Tonis-Zoo Katzen Hunde Futter Pferde Reptilien Fische Mäuse Meerschweinchen Says:

    [...] Si Emas Hitam « Bayu Gumay [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: